Microsoft Office : Fungsi AVERAGE
Hallo Nakama .. J) /// apa
kabar ?? kuharap semua baik .. :3
Kali ini Hana mau jelasin tentang fungsi AVERAGE . Pasti
kalian yang pernah pegang komputer bahkan pernah buka program Ms Excel pasti
tahu kan rumus yang satu ini?? ..
Nah, bagi yang kurang tahu atau yang kurang paham, aku akan
jelasin. AVERAGE adalah suatu rumus yang berfungsi untuk menghitung nilai
rata-rata suatu kelompok bilangan.
Berikut contoh dari fungsi AVERAGE :
Jadi, kita dapat menghitung rata-rata secara otomatis tanpa
harus repot-repot menghitung manual. Bila ingin menghitung semua bilang sampai
bawah seperti contoh di atas, sobat dapat menariknya ke bawah sehingga rumus
tersebut secara otomatis tercopy dan terhitung otomatis.
Yup.. sampai di sini dulu , bila Hana salah kata mohon
maklumi yaa .. J) // kalau
kurang paham, bisa tinggalkan komentar di bawah . Okey , terima kasih atas
waktunya Semoga bermanfaat .
Jaa ///
CORPSE PARTY Live Action tayang di Indonesia
CORPSE PARTY [TAYANG MULAI BESOK, 2 DESEMBER 2015]
Detail Movie :
DIRECTOR : Masafumi Yamada
ACTORS : Rina Ikoma, Ryosuke Ikeoka, Nozomi Maeda
DURATIONS : 93 Minutes
CENSOR RATING : 17+
GENRE : HORROR
LANGUAGE : JAPANESE
SUBSTITLE : ENGLISH & BAHASA IND
Sinopsis Movie :
ACTORS : Rina Ikoma, Ryosuke Ikeoka, Nozomi Maeda
DURATIONS : 93 Minutes
CENSOR RATING : 17+
GENRE : HORROR
LANGUAGE : JAPANESE
SUBSTITLE : ENGLISH & BAHASA IND
Sinopsis Movie :
Ini adalah hari terakhir festival sekolah, Naomi dan teman-temannya berkumpul bersama untuk melakukan sebuah ritual bernama Sachiko Ever After yang dapat membuat mereka menjadi sahabat untuk selamanya. Akan tetapi, saat mantra terucap, tiba-tiba saja terjadi gempa Bumi yang membuat sekolah mereka terpencil dan menjadi sarang para mayat hidup. Naomi beserta teman-temannya harus mencari jalan keluar untuk mengembalikan keadaan atau kutukan tersebut dapat membunuh mereka satu per satu.
Sejarah IKIMONOGAKARI chapter 4
CHAPTER 4
Lembar pertama hari ini,
Tambourine ini masih digunakan sampai sekarang loh
https://twitter.com/mizunoyoshiki/status/667151083035164672
66. Yoshioka sudah memutuskan untuk melanjutkan sekolah musik di sekitar kampungnya. Untuk ke depannya, dia mau kerja yang ada hubungan dengan musik atau semacem seni tari sampai drama, yah sekalian belajar banyak hal deh. Akhirnya dia milih jurusan musik.
67. Entah kapan ya masa-masa ujian ini lewat, saya dan Yamashita ingin membangkitkan Ikimonogakari, kali ini lebih serius. Ga cuma sekedar bikin kenangan aja, dan kami siap berjudi untuk masa depan kami.
68. Langsung kita ngomongin ke Yoshioka. Ternyata kita malah dapet jawaban yang ga diduga. "Ga mau ah" kata si Yoshioka.
69. Yoshioka belajar musik itu otodidak, sampe SMA, dan bebas banget. Kebetulan dia lahir di keluarga yang mencintai musik. Dia belajar lagu anak-anak dari orang tua dan kakek-neneknya. Dia juga suka bernyanyi lagu pop dan sangat populer di kelasnya dan selalu bernyanyi sebebasnya tanpa beban.
70. Maka dari itu, dia melanjutkan ke sekolah musik. Saat itulah dia mulai masuk ke lingkungan yang latihannya profesional dan dibimbing oleh mentor yang keras dan jarang memberi pujian. Teman sekelasnya juga rata-rata orang yang berbakat. Untuk pertama kalinya ia masuk dalam situasi seperti ini.
71. Kalau memang mau serius, dia sadar masih banyak kekurangan dalam , terutama soal teknis. Di sampai berujar "aku ga ngerti cara bernyanyi dengan benar" Situasinya mendadak kacau deh! Dia kebingungan sendiri karena harus mikir gimana caranya bisa sesuai dengan rencananya.
72. Untuk ke depannya nanti, dia pengen banget nyanyi lagu pop, tapi dia ngerasa belum waktunya karena dia ga ada basic dan butuh banyak latihan. SI Yoshioka itu orangnya serius banget dari lahir, makanya giliran dia mau nyanyi pop dia ngerasa "ah masih belum bisa nih"
73. Wah gawat deh, gawat banget. Waktu itu bener-bener ga sabar banget sampai rasanya ga bisa ngapa-ngapain. Memang begitulah kalau sekarang kita kilas balik ama kata-katanya si Yoshioka dulu. Dia jadi kehilangan kepercayaan diri, ya ketimbang berdiskusi, jadinya lebih sering ribut. Iya dulu sering ribut ama Yoshioka
74. ga lama kemudian, Yamashita pergi backpackeran ke Asia Tenggara. Ya kurang lebih satu bulan dia pergi singgah ke tiap negara di asia tenggara. Kadang-kadang dia ngabarin via email. Dengan demikian, kegiatan Ikimonogakari dihentikan untuk sementara.
75. Ketika Yamashita liburan, otomatis saya jadi ga ada kegiatan juga. Yah mau bagaimana lagi, kerjaan juga ga ada, berat banget rasanya. Meski dari hati yang terdalampun udah memutuskan untuk ngelanjutin jalan bermusik, tapi maju satu langkah aja ga bisa. Berat banget rasanya.
76. Meskipun inginnya nulis ini nanti, saat training di record company sebelum debut ikimonogakari juga berat. Tapi kalo menurut saya pribadi, yang ini lebih berat. Saya ga masalah sih dengan rintangan yang akan menanti, tapi masalahnya saya ga bisa melangkah ke depan, bergerak, dan untuk mencobapun ga bisa. Bener-bener lebih berat.
77. Tapi biar gimana juga kita ga pernah sekalipun cari vokalis pengganti Yoshioka. Aneh sih. Yang kita tahu, di tengah kita berdua itu ada si Yoshioka, begitu juga sebaliknya, di samping Yoshioka ada kita di kedua sisi. Ga pernah sekalipun kita kepikiran hal lain. Saya kira begitu.
78. Saya jadi inget, dulu kita sering nongkrong di Saizeriya depan stasiun hon atsugi. Sehabis tingkat 1 selesai, ya saya sendiri udah ga karuan dah kondisinya. "Wah gue ga bisa nih nunggu lama kek gini terus. Gue masi mau di musik, tapi kalo ninggalin Ikimonogakari, mau jadi apa gue!?" Saya ngomong gitu ke Yamashita dan Yoshioka.
79. Mendengar hal itu, Yamashita yang baru aja pulang langsung berpikir "wah gawat, bisa bubar beneran nih" Yamashita yang selama ini sudah cukup pede, ternyata ga mau kalau misalnya lagu yang selama ini udah dia buat capek-capek cuma bisa dibanggain di depan anaknya kelak, dan itu satu hal yang paling dia ga mau.
80. Sampai akhirnya bulan Februari 2003, saya yang kebetulan lagi ambil ujian SIM di daerah Amarume, Yamagata, dapat telpon dari Yamashita. Waktu itu saya lagi di daerah pegunungan yang sepi banget. "Eh lo tau gak, si Kiyoe, dia bilang ok tuh" kata si Yamashita di ujung telpon.
"Ah, yang bener lu?" jawab saya waktu itu.
81. Yamashita yang ternyata selama ini benci banget liatin saya dan Yoshioka ribut mulu mikir "ah kalo gue ajak Yoshiki, bisa tambah runyem urusannya" Akhirnya diputuskanlah Yamashita ngomong secara pribadi sama Yoshioka. "Kalau kamu mau berenti, ya udah gpp, tapi ya kalau bisa sih tolong dicoba sekali lagi aja" Mendengar hal itu, Yoshioka setuju.
82. Saya juga udah sering bilang ke Yoshioka berkali-kali hal yang sama selama setahun. Tapi si Yamashita cuma ngomong sekali dan langsung didengerin. Sekarang kalo diinget sih jadi bahan bercandaan, ya untungnya kita tetep mempertahankan si Yoshioka ya sebagai vokalis.
83. Pokoknya kejadian di tahun 2003 itu seakan menjadi pertanda. Bahwa mungkin ada yang mendukung kami bertiga yang masa depannya masih belum jelas. Dan di situ kami sadar bahwa roda kehidupan sudah berputar dan akan banyak persaingan yang saling menjatuhkan di depan. Apapun yang terjadi, saat itu kami masih bertiga. Belum ada yang lain.
Ok cukup sekian untuk hari ini, maaf kalau ada salah2 kata. Next, Chapter 5.
Lembar pertama hari ini,
Tambourine ini masih digunakan sampai sekarang loh
https://twitter.com/mizunoyoshiki/status/667151083035164672
66. Yoshioka sudah memutuskan untuk melanjutkan sekolah musik di sekitar kampungnya. Untuk ke depannya, dia mau kerja yang ada hubungan dengan musik atau semacem seni tari sampai drama, yah sekalian belajar banyak hal deh. Akhirnya dia milih jurusan musik.
67. Entah kapan ya masa-masa ujian ini lewat, saya dan Yamashita ingin membangkitkan Ikimonogakari, kali ini lebih serius. Ga cuma sekedar bikin kenangan aja, dan kami siap berjudi untuk masa depan kami.
68. Langsung kita ngomongin ke Yoshioka. Ternyata kita malah dapet jawaban yang ga diduga. "Ga mau ah" kata si Yoshioka.
69. Yoshioka belajar musik itu otodidak, sampe SMA, dan bebas banget. Kebetulan dia lahir di keluarga yang mencintai musik. Dia belajar lagu anak-anak dari orang tua dan kakek-neneknya. Dia juga suka bernyanyi lagu pop dan sangat populer di kelasnya dan selalu bernyanyi sebebasnya tanpa beban.
70. Maka dari itu, dia melanjutkan ke sekolah musik. Saat itulah dia mulai masuk ke lingkungan yang latihannya profesional dan dibimbing oleh mentor yang keras dan jarang memberi pujian. Teman sekelasnya juga rata-rata orang yang berbakat. Untuk pertama kalinya ia masuk dalam situasi seperti ini.
71. Kalau memang mau serius, dia sadar masih banyak kekurangan dalam , terutama soal teknis. Di sampai berujar "aku ga ngerti cara bernyanyi dengan benar" Situasinya mendadak kacau deh! Dia kebingungan sendiri karena harus mikir gimana caranya bisa sesuai dengan rencananya.
72. Untuk ke depannya nanti, dia pengen banget nyanyi lagu pop, tapi dia ngerasa belum waktunya karena dia ga ada basic dan butuh banyak latihan. SI Yoshioka itu orangnya serius banget dari lahir, makanya giliran dia mau nyanyi pop dia ngerasa "ah masih belum bisa nih"
73. Wah gawat deh, gawat banget. Waktu itu bener-bener ga sabar banget sampai rasanya ga bisa ngapa-ngapain. Memang begitulah kalau sekarang kita kilas balik ama kata-katanya si Yoshioka dulu. Dia jadi kehilangan kepercayaan diri, ya ketimbang berdiskusi, jadinya lebih sering ribut. Iya dulu sering ribut ama Yoshioka
74. ga lama kemudian, Yamashita pergi backpackeran ke Asia Tenggara. Ya kurang lebih satu bulan dia pergi singgah ke tiap negara di asia tenggara. Kadang-kadang dia ngabarin via email. Dengan demikian, kegiatan Ikimonogakari dihentikan untuk sementara.
75. Ketika Yamashita liburan, otomatis saya jadi ga ada kegiatan juga. Yah mau bagaimana lagi, kerjaan juga ga ada, berat banget rasanya. Meski dari hati yang terdalampun udah memutuskan untuk ngelanjutin jalan bermusik, tapi maju satu langkah aja ga bisa. Berat banget rasanya.
76. Meskipun inginnya nulis ini nanti, saat training di record company sebelum debut ikimonogakari juga berat. Tapi kalo menurut saya pribadi, yang ini lebih berat. Saya ga masalah sih dengan rintangan yang akan menanti, tapi masalahnya saya ga bisa melangkah ke depan, bergerak, dan untuk mencobapun ga bisa. Bener-bener lebih berat.
77. Tapi biar gimana juga kita ga pernah sekalipun cari vokalis pengganti Yoshioka. Aneh sih. Yang kita tahu, di tengah kita berdua itu ada si Yoshioka, begitu juga sebaliknya, di samping Yoshioka ada kita di kedua sisi. Ga pernah sekalipun kita kepikiran hal lain. Saya kira begitu.
78. Saya jadi inget, dulu kita sering nongkrong di Saizeriya depan stasiun hon atsugi. Sehabis tingkat 1 selesai, ya saya sendiri udah ga karuan dah kondisinya. "Wah gue ga bisa nih nunggu lama kek gini terus. Gue masi mau di musik, tapi kalo ninggalin Ikimonogakari, mau jadi apa gue!?" Saya ngomong gitu ke Yamashita dan Yoshioka.
79. Mendengar hal itu, Yamashita yang baru aja pulang langsung berpikir "wah gawat, bisa bubar beneran nih" Yamashita yang selama ini sudah cukup pede, ternyata ga mau kalau misalnya lagu yang selama ini udah dia buat capek-capek cuma bisa dibanggain di depan anaknya kelak, dan itu satu hal yang paling dia ga mau.
80. Sampai akhirnya bulan Februari 2003, saya yang kebetulan lagi ambil ujian SIM di daerah Amarume, Yamagata, dapat telpon dari Yamashita. Waktu itu saya lagi di daerah pegunungan yang sepi banget. "Eh lo tau gak, si Kiyoe, dia bilang ok tuh" kata si Yamashita di ujung telpon.
"Ah, yang bener lu?" jawab saya waktu itu.
81. Yamashita yang ternyata selama ini benci banget liatin saya dan Yoshioka ribut mulu mikir "ah kalo gue ajak Yoshiki, bisa tambah runyem urusannya" Akhirnya diputuskanlah Yamashita ngomong secara pribadi sama Yoshioka. "Kalau kamu mau berenti, ya udah gpp, tapi ya kalau bisa sih tolong dicoba sekali lagi aja" Mendengar hal itu, Yoshioka setuju.
82. Saya juga udah sering bilang ke Yoshioka berkali-kali hal yang sama selama setahun. Tapi si Yamashita cuma ngomong sekali dan langsung didengerin. Sekarang kalo diinget sih jadi bahan bercandaan, ya untungnya kita tetep mempertahankan si Yoshioka ya sebagai vokalis.
83. Pokoknya kejadian di tahun 2003 itu seakan menjadi pertanda. Bahwa mungkin ada yang mendukung kami bertiga yang masa depannya masih belum jelas. Dan di situ kami sadar bahwa roda kehidupan sudah berputar dan akan banyak persaingan yang saling menjatuhkan di depan. Apapun yang terjadi, saat itu kami masih bertiga. Belum ada yang lain.
Ok cukup sekian untuk hari ini, maaf kalau ada salah2 kata. Next, Chapter 5.
Sejarah IKIMONOGAKARI chapter 3
CHAPTER 3
Lembar pertama hari ini
Chord “Mudai ~tooku e~” yang dikasih Yamashita jaman SMA.
https://twitter.com/mizunoyoshiki/status/664433101909561346
53. Setelah live terakhir kami di depan stasiun hon-atsugi, kami bertiga balik lagi jadi murid SMA. Yah setidaknya sampe hari itu sih ga ada keanehan. Semua tampak normal, kami berdua yang cowok siap-siap ikut ujian masuk universitas, sementara Yoshioka kayaknya lagi sibuk ama kegiatan band lain di skolah kita juga.
54. Akhirnya musim semi tiba dan sakura mulai bertebaran. Secara menyedihkan saya terpaksa jadi pengangguran. YA kita berdua sih lebih tepatnya. Sebenernya saya sempet lulus sih di salah satu universitas swasta deket sini. Tapi karena ada satu ujian yang keknya cocok dengan saya, ya udah saya memutuskan ambil ujian itu. Paginya kerja part time di Ebina Service Centre, ya buat nambah biaya sekolah persiapan. Jadi ya selama setahun hidup saya itu pagi kerja, siang kuliah, malam ikutan kelas prep. Gitu aja terus.
55. Mungkin setelah ujian masuk atau musim dingin kemarin kali ya? Akhirnya ketemu lagi ama Yamashita, di ruang kelas publik yg kemaren diceritain itu. Banyak juga siswa lain yang dateng dan belajar sampai larut malam.Dan karena kita selalu dengan ekspresi yang ga jelas maka secara ga langsung tumbuh rasa solidaritas antara kita.
56. Di depan ruang keals, ada space yang biasa dipake buat istirahat. Nah di sana itu ada bangku, yang kalau lagi pada sumpek sering pada duduk, ngomongin hal-hal yang gajelas. Terus-terusan seperti itu, meski mood berganti, tetep aja kalau udah di sana, kita tenggelam dalam pembicaraan.
57. Sayapun sering ngobrol ama Yamashita. Pengangguran itu emang bikin depresi, makanya kita berdua jadi mengkhayal apa sih yang akan kita lakukan kalau lulus ujian, dan kitapun kabur dari realita. Sampai akhirnya secara spontan saya berkata “Mau ga kita “ikimonogakari-an” lagi? Kita coba sekali lagi, menyenangkan kan?”
58. Lalu kita bicara mimpi kita yang jujur aja agak memalukan. Contohnya seperti keinginan tampil di Waratte ii tomo, Music Station, Kouhaku. Atau jadi host di all night nippon sampai keinginan live di Yokohama Arena. Semuanya seperti menggambar mimpi.
59. Kita terus ngomongin mimpi yang ga masuk akal itu dengan polosnya. Ya seperti delusi ala ala remaja deh. Mimpi absurd kita yang dari kampung ebina atsugi ini untuk keluar ke dunia, ya kalau direncanin dari 1 ampe 100 ya terus-terusan aja kita berdiskusi seperti itu. Ya jadi ga belajar deh haha
60. Pokoknya nih, di ruang terbuka itu kita terus ngomongin jalan menuju
Yokohama Arena (lebay banget), yang terlihat miskom parah. Pokoknya waktu itu semua terlihat nyata bagi kita dua orang remaja laki-laki bodoh ini. Ga ngerti realita, ga ada rasa takut, ga ada malu, hajar aja terus deh. Pokoknya kita masih muda dan polos
61. Kalo diliat sekarang nih, waktu itu menyenangkan banget. Kita berdua saat itu masih belum kenal realita. Jadi masih bisa bermimpi aja udah cukup deh. Kadang Yoshioka sering bilang “ah sayang waktu itu aku ga di sana”
62. Lalu untuk beberapa tahun, kita coba beneran jalanin satu per satu rencana yang kita susun di tempat itu. Meski ga semuanya ga, tapi ya hampir semuanya terkabul sih, setidaknya gitu. Kita bersyukur dan beruntung banget, serasa dikelilingi berkah.
63. BTW, kalo bole jujur, soal all night nippon, mimpi kita dua cowok ini ga terkabul. Yang terpilih karena personanya gembira itu ya si Yoshioka. Kalau lagi inget, kadang-kadang sering kita bercandain sih.
64. Setelah imajinasi liar kita dan juga setelah ujian selesai, sejujurnya bagi saya selama 16 tahun ini ada satu momen yang paling menyedihkan dialami ikomonogakari. Tentang mimpi kita yang childish dan rencana kita sejujurnya baru dimulai setelah kejadian berikut ini
65. Yoshioka bilang ke saya dan Yamashita bahwa dia ga pengen nyanyi
Ok, cukup sekian untuk hari ini, maaf kalau ada salah2 kata, next Chapter 4
Lembar pertama hari ini
Chord “Mudai ~tooku e~” yang dikasih Yamashita jaman SMA.
https://twitter.com/mizunoyoshiki/status/664433101909561346
53. Setelah live terakhir kami di depan stasiun hon-atsugi, kami bertiga balik lagi jadi murid SMA. Yah setidaknya sampe hari itu sih ga ada keanehan. Semua tampak normal, kami berdua yang cowok siap-siap ikut ujian masuk universitas, sementara Yoshioka kayaknya lagi sibuk ama kegiatan band lain di skolah kita juga.
54. Akhirnya musim semi tiba dan sakura mulai bertebaran. Secara menyedihkan saya terpaksa jadi pengangguran. YA kita berdua sih lebih tepatnya. Sebenernya saya sempet lulus sih di salah satu universitas swasta deket sini. Tapi karena ada satu ujian yang keknya cocok dengan saya, ya udah saya memutuskan ambil ujian itu. Paginya kerja part time di Ebina Service Centre, ya buat nambah biaya sekolah persiapan. Jadi ya selama setahun hidup saya itu pagi kerja, siang kuliah, malam ikutan kelas prep. Gitu aja terus.
55. Mungkin setelah ujian masuk atau musim dingin kemarin kali ya? Akhirnya ketemu lagi ama Yamashita, di ruang kelas publik yg kemaren diceritain itu. Banyak juga siswa lain yang dateng dan belajar sampai larut malam.Dan karena kita selalu dengan ekspresi yang ga jelas maka secara ga langsung tumbuh rasa solidaritas antara kita.
56. Di depan ruang keals, ada space yang biasa dipake buat istirahat. Nah di sana itu ada bangku, yang kalau lagi pada sumpek sering pada duduk, ngomongin hal-hal yang gajelas. Terus-terusan seperti itu, meski mood berganti, tetep aja kalau udah di sana, kita tenggelam dalam pembicaraan.
57. Sayapun sering ngobrol ama Yamashita. Pengangguran itu emang bikin depresi, makanya kita berdua jadi mengkhayal apa sih yang akan kita lakukan kalau lulus ujian, dan kitapun kabur dari realita. Sampai akhirnya secara spontan saya berkata “Mau ga kita “ikimonogakari-an” lagi? Kita coba sekali lagi, menyenangkan kan?”
58. Lalu kita bicara mimpi kita yang jujur aja agak memalukan. Contohnya seperti keinginan tampil di Waratte ii tomo, Music Station, Kouhaku. Atau jadi host di all night nippon sampai keinginan live di Yokohama Arena. Semuanya seperti menggambar mimpi.
59. Kita terus ngomongin mimpi yang ga masuk akal itu dengan polosnya. Ya seperti delusi ala ala remaja deh. Mimpi absurd kita yang dari kampung ebina atsugi ini untuk keluar ke dunia, ya kalau direncanin dari 1 ampe 100 ya terus-terusan aja kita berdiskusi seperti itu. Ya jadi ga belajar deh haha
60. Pokoknya nih, di ruang terbuka itu kita terus ngomongin jalan menuju
Yokohama Arena (lebay banget), yang terlihat miskom parah. Pokoknya waktu itu semua terlihat nyata bagi kita dua orang remaja laki-laki bodoh ini. Ga ngerti realita, ga ada rasa takut, ga ada malu, hajar aja terus deh. Pokoknya kita masih muda dan polos
61. Kalo diliat sekarang nih, waktu itu menyenangkan banget. Kita berdua saat itu masih belum kenal realita. Jadi masih bisa bermimpi aja udah cukup deh. Kadang Yoshioka sering bilang “ah sayang waktu itu aku ga di sana”
62. Lalu untuk beberapa tahun, kita coba beneran jalanin satu per satu rencana yang kita susun di tempat itu. Meski ga semuanya ga, tapi ya hampir semuanya terkabul sih, setidaknya gitu. Kita bersyukur dan beruntung banget, serasa dikelilingi berkah.
63. BTW, kalo bole jujur, soal all night nippon, mimpi kita dua cowok ini ga terkabul. Yang terpilih karena personanya gembira itu ya si Yoshioka. Kalau lagi inget, kadang-kadang sering kita bercandain sih.
64. Setelah imajinasi liar kita dan juga setelah ujian selesai, sejujurnya bagi saya selama 16 tahun ini ada satu momen yang paling menyedihkan dialami ikomonogakari. Tentang mimpi kita yang childish dan rencana kita sejujurnya baru dimulai setelah kejadian berikut ini
65. Yoshioka bilang ke saya dan Yamashita bahwa dia ga pengen nyanyi
Ok, cukup sekian untuk hari ini, maaf kalau ada salah2 kata, next Chapter 4
Sejarah IKIMONOGAKARI chapter 2
CHAPTER 2
Street live waktu SMA
https://twitter.com/mizunoyoshiki/status/662602935591788544
37. Setelah Kiyoe bergabung, jadwal live kita jadi setiap hari rabu di tiap minggunya di depan tempat mangkal taxi di pintu utara Stasiun Hon-atsugi. Waktu itu ga ada smartphone. Internet juga ga sepopuler sekarang, makanya dulu kita ga ada tuh update di webpage atau social media. Gampangnya ya kita manggung tiap minggu di hari dan jam yang sama. Udah gitu aja.
38. Biasa kita latihan di gedung almamater sekolah. Kiyoe tiap pulang sekolah menyelinap ke sekolah kita dengan minjem seragam kakaknya.
39. Sampai suatu ketika Kiyoe pernah ketauan dan dimaki-maki sama guru sekolah kita.
"Kamu, apa benar kamu anak sekolah sini?!?"
Kiyoe: I, Iya, kelas 2-2.
Sensei; Bohong kamu! Sekolah ini menggunakan huruf di tiap kelasnya, 2A, 2B
Kiyoe: Ma, maaf
Sensei: Kamu, adiknya Yoshioka kan? Saya tahu ini.
Oh ternyata beliau tahu.
40. Sejak Kiyoe bergabung, jenis tamu kita bertambah. Mulai dari anak sekolah, pekerja kantoran dengan jas, keluarga, sampe siapapun yang lewat dan berhenti. Kita bertiga terlihat unik, karena kita sehabis pulang sekolah langsung ngamen, pake seragam pula. Semenjak itu sampai sekarang, saya bersyukur jenis tamu kita tetep seperti itu. Sebuah kebanggaan pastinya.
41. Selama manggung, pastinya ada kendala dong. Pernah kita diomelin sama penjual food truck takoyaki yang mau lewat dan diteriakin "woi minggir! ganggu aja lo!" Dan seketika posisi parkirannya jadi ganggu penonton yang mau melihat kita.
42. Selain itu, banyak juga orang random yang mendadak nimbrung pas kit alagi main. Misalnya menari di tengah2, ada yang bawa bongo drum dan masukin aja di tengah2 lagu dan ngegebuknya semangat banget. Lalu ada juga bapak2 mabok yang ikut2an nyanyi. Banyak deh.
43. Kadang hal tersebut bikin kaget. Dalam situasi tersebut, kita terlatih menghadapinya. Kadang kalau misalnya ternyata jadi masalah, penontonya malah pergi. Dan giliran kita lempar humor baru deh pada mendekat. Termasuk juga om2 yang tukang mabok. Nah kalo soal gini, Kiyoe jago ngadepinnya, ajaib deh.
44. Pokoknya kita seneng deh, pokoknya jalan kita di musik saat itu terlihat cerah. Tapi ya kita sama sekali ga kepikiran untuk jadi band pro, ya waktu itu kita masih kelas 3 SMA. Kalau dianalogikan, mungkin kita seperti kegiatan klub di sekolah. Ya hanya sebatas senang aja gitu. Sampe akhirnya ada sebuah hal yang datang dan sedikit mengubah kesadaran kita.
45. Ketika manggung, tiba2 dateng seseorang yang ngaku sebagai staff dari sebuah acara terkenal. Beliau informasi ke kita bahwa lagi ada audisi untuk cari talenta baru dan menawarkan apakah kami mau ikut atau tidak. Kalau dipikir sekarang, agak aneh ya. Kenapa sih milihnya kami yang cuma anak SMA di kampung. Dan kaget juga setelah tahu bahwa itu beneran audisi menuju ketenaran.
46. Tanpa mikir macem2, kita bertiga menghadap ke lokasi yang kami belum pernah pergi, di tengah Tokyo. Audisinya di daerah Akasaka-Mitsuke. Kita rencana bawain dua lagu, dan saya gugup dan tanpa ekspresi banget ketika lagi main. SAmpe akhirnya ada juri lelaki yang marah2 "Kalian ini niat main atau tidak sih!?" Dan itu semua diluar ekspektasi kita. Sampe sekarnag kalo diinget, malah jadi bahan bercandaan member.
47. Selang beberapa hari, kami dapat jawaban bahwa kami lolos. Wahs eakan ga percaya, kita sebagai anak SMA yang polos inipun bertanya-tanya "eh beneran ga nih? Jangan-jangan kita ditipu lagi?" Ya meskipun gitu, sampe sekarang juga pengennya sih dilanjutkan kalau emang benar ya.
48. Audisi ini mungkin jadi semcam kesempatan buat kami di masa depan. Tapi kami jujur aja bingung dengan keputusan ini. Memang sih kita bersenang-senang dengan yang kita lakukan, tapi kita jadi kepikiran "ujungnya" Apa yang harus kami lakukan? Kami bertiga yang kala itu masih belasan, bingung banget. Kepikiran ga mungkin untuk ngelanjutin.
49. Meskipun saya dan Yoshioka ingin melanjutkan jalan ke musik, tapi saya ga kepikiran untuk melanjutkan "Ikimonogakari". Karena konsep Ikimonogakari di kepala kami waktu itu cuma buat senang-senang aja. Pokoknya kita ga mau jalani ini dengan gegabah.
50. Setelah didiskusikan sebagai anak SMA, akhirnya kita memutuskan bahwa grup ini cukup untuk bersenang-senang aja. Yah, sebagai penutup kenangan masa SMA aja. Dan akhirnya kita memutuskan untuk bubar. Layaknya kegiatan klub yang libur karena lomba musim panas, dan saya serta yamashita yang sudah kelas tiga dan banyaknya ujian yang menanti. kami memutuskan untuk menggelar live perpisahan di depan stasiun daerah kita.
51. Mengenai live perpisahan ini, kita juga sering pikirin. Semakin hari yang nonton di depan honatsugi makin banyak, dari 100 sampe 200 orang, nama kita jadi lumayan dikenal di sekitaran kita. Banyak penonton yang kaget ngeliat kita anak SMA 3 orang perform di jalanan dan akhirnya ngumpul untuk nonton. Sebagai anak SMA, kita ngerasa sudah mencapai sesuatu dalam hidup nih, ya semacam jadi kenangan manis di masa SMA. Seneng deh pokoknya.
52. Demi live terakhir, kami bertiga buat pamflet sendiri yang mengabarkan pembubaran band kami. Kami tulis tagline yang mencolok banget "Kalau kalian melewatkan yang satu ini, kalian ga akan bisa ketemu kami lagi" Dan lucunya sama sekali ga kepikiran bahwa 15 tahun setelahnya, kami makin banyak ketemu sama orang-orang.
Cukup sekian untuk hari ini, mohon maaf kalau ada salah2 kata. Next, Chapter 3.
Street live waktu SMA
https://twitter.com/mizunoyoshiki/status/662602935591788544
37. Setelah Kiyoe bergabung, jadwal live kita jadi setiap hari rabu di tiap minggunya di depan tempat mangkal taxi di pintu utara Stasiun Hon-atsugi. Waktu itu ga ada smartphone. Internet juga ga sepopuler sekarang, makanya dulu kita ga ada tuh update di webpage atau social media. Gampangnya ya kita manggung tiap minggu di hari dan jam yang sama. Udah gitu aja.
38. Biasa kita latihan di gedung almamater sekolah. Kiyoe tiap pulang sekolah menyelinap ke sekolah kita dengan minjem seragam kakaknya.
39. Sampai suatu ketika Kiyoe pernah ketauan dan dimaki-maki sama guru sekolah kita.
"Kamu, apa benar kamu anak sekolah sini?!?"
Kiyoe: I, Iya, kelas 2-2.
Sensei; Bohong kamu! Sekolah ini menggunakan huruf di tiap kelasnya, 2A, 2B
Kiyoe: Ma, maaf
Sensei: Kamu, adiknya Yoshioka kan? Saya tahu ini.
Oh ternyata beliau tahu.
40. Sejak Kiyoe bergabung, jenis tamu kita bertambah. Mulai dari anak sekolah, pekerja kantoran dengan jas, keluarga, sampe siapapun yang lewat dan berhenti. Kita bertiga terlihat unik, karena kita sehabis pulang sekolah langsung ngamen, pake seragam pula. Semenjak itu sampai sekarang, saya bersyukur jenis tamu kita tetep seperti itu. Sebuah kebanggaan pastinya.
41. Selama manggung, pastinya ada kendala dong. Pernah kita diomelin sama penjual food truck takoyaki yang mau lewat dan diteriakin "woi minggir! ganggu aja lo!" Dan seketika posisi parkirannya jadi ganggu penonton yang mau melihat kita.
42. Selain itu, banyak juga orang random yang mendadak nimbrung pas kit alagi main. Misalnya menari di tengah2, ada yang bawa bongo drum dan masukin aja di tengah2 lagu dan ngegebuknya semangat banget. Lalu ada juga bapak2 mabok yang ikut2an nyanyi. Banyak deh.
43. Kadang hal tersebut bikin kaget. Dalam situasi tersebut, kita terlatih menghadapinya. Kadang kalau misalnya ternyata jadi masalah, penontonya malah pergi. Dan giliran kita lempar humor baru deh pada mendekat. Termasuk juga om2 yang tukang mabok. Nah kalo soal gini, Kiyoe jago ngadepinnya, ajaib deh.
44. Pokoknya kita seneng deh, pokoknya jalan kita di musik saat itu terlihat cerah. Tapi ya kita sama sekali ga kepikiran untuk jadi band pro, ya waktu itu kita masih kelas 3 SMA. Kalau dianalogikan, mungkin kita seperti kegiatan klub di sekolah. Ya hanya sebatas senang aja gitu. Sampe akhirnya ada sebuah hal yang datang dan sedikit mengubah kesadaran kita.
45. Ketika manggung, tiba2 dateng seseorang yang ngaku sebagai staff dari sebuah acara terkenal. Beliau informasi ke kita bahwa lagi ada audisi untuk cari talenta baru dan menawarkan apakah kami mau ikut atau tidak. Kalau dipikir sekarang, agak aneh ya. Kenapa sih milihnya kami yang cuma anak SMA di kampung. Dan kaget juga setelah tahu bahwa itu beneran audisi menuju ketenaran.
46. Tanpa mikir macem2, kita bertiga menghadap ke lokasi yang kami belum pernah pergi, di tengah Tokyo. Audisinya di daerah Akasaka-Mitsuke. Kita rencana bawain dua lagu, dan saya gugup dan tanpa ekspresi banget ketika lagi main. SAmpe akhirnya ada juri lelaki yang marah2 "Kalian ini niat main atau tidak sih!?" Dan itu semua diluar ekspektasi kita. Sampe sekarnag kalo diinget, malah jadi bahan bercandaan member.
47. Selang beberapa hari, kami dapat jawaban bahwa kami lolos. Wahs eakan ga percaya, kita sebagai anak SMA yang polos inipun bertanya-tanya "eh beneran ga nih? Jangan-jangan kita ditipu lagi?" Ya meskipun gitu, sampe sekarang juga pengennya sih dilanjutkan kalau emang benar ya.
48. Audisi ini mungkin jadi semcam kesempatan buat kami di masa depan. Tapi kami jujur aja bingung dengan keputusan ini. Memang sih kita bersenang-senang dengan yang kita lakukan, tapi kita jadi kepikiran "ujungnya" Apa yang harus kami lakukan? Kami bertiga yang kala itu masih belasan, bingung banget. Kepikiran ga mungkin untuk ngelanjutin.
49. Meskipun saya dan Yoshioka ingin melanjutkan jalan ke musik, tapi saya ga kepikiran untuk melanjutkan "Ikimonogakari". Karena konsep Ikimonogakari di kepala kami waktu itu cuma buat senang-senang aja. Pokoknya kita ga mau jalani ini dengan gegabah.
50. Setelah didiskusikan sebagai anak SMA, akhirnya kita memutuskan bahwa grup ini cukup untuk bersenang-senang aja. Yah, sebagai penutup kenangan masa SMA aja. Dan akhirnya kita memutuskan untuk bubar. Layaknya kegiatan klub yang libur karena lomba musim panas, dan saya serta yamashita yang sudah kelas tiga dan banyaknya ujian yang menanti. kami memutuskan untuk menggelar live perpisahan di depan stasiun daerah kita.
51. Mengenai live perpisahan ini, kita juga sering pikirin. Semakin hari yang nonton di depan honatsugi makin banyak, dari 100 sampe 200 orang, nama kita jadi lumayan dikenal di sekitaran kita. Banyak penonton yang kaget ngeliat kita anak SMA 3 orang perform di jalanan dan akhirnya ngumpul untuk nonton. Sebagai anak SMA, kita ngerasa sudah mencapai sesuatu dalam hidup nih, ya semacam jadi kenangan manis di masa SMA. Seneng deh pokoknya.
52. Demi live terakhir, kami bertiga buat pamflet sendiri yang mengabarkan pembubaran band kami. Kami tulis tagline yang mencolok banget "Kalau kalian melewatkan yang satu ini, kalian ga akan bisa ketemu kami lagi" Dan lucunya sama sekali ga kepikiran bahwa 15 tahun setelahnya, kami makin banyak ketemu sama orang-orang.
Cukup sekian untuk hari ini, mohon maaf kalau ada salah2 kata. Next, Chapter 3.
Sejarah IKIMONOGAKARI chapter 1
CHAPTER 1
Lembaran pertama hari ini,
Ikimonogakari, 3 orang.
sumber :
https://twitter.com/mizunoyoshiki/status/661201769284808704
24. Jadi, pertemuan pertama kami dengan Yoshioka itu di lorong sebuah studio milik umum di kota Atsugi. Dulu ada tuh studio kedap suara serba guna yang letaknya berdampingan dengan perpustakaan. Karena biaya sewanya murah dan untuk publik, maka banyak anak2 SMA yang ga ada uang, latihan band di sana.
25. Pada saat itu, Shina Ringo juga lagi booming. Dan banyak banget yang mau coverin dia, termasuk kita kepikiran juga. Tapi yang paling krusial adalah kita ga ada vokalis cewek. Berhubung almamater ekskul band kita ngetop2, akhirnya kita diskusi lah sama mereka. Hasilnya banyak yg pada bilang adiknya Yoshioka pinter nyanyi
.
26. Sepakatlah kita janjian di studio. Saya memutuskan untuk nunggu sambil duduk di lorong, karena saya datengnya sedikit lebih cepat. Ga lama kemudian datenglah cowok yang jadi bassist kita. Saat itu juga dia ga terlalu akrab, jadinya deh kita diskusi dengan sedikit awkward. Sampe akhirnya di ujung lorong sana terlihat seorang wanita yang memancarkan aura yang sangat cerah.
27. Tiba-tiba wanita itu langsung beri salam ke basis kita dengan ramah. Saya nanya "temen kamu nih?"
"Oh bukan, ini dia adiknya si Yoshioka, yang mau nyanyi"
"Ooh kamu"
Ya, dan dia adalah Yoshika Kiyoe.
28. Kadang saya berpikir "Pertama kali dengerin Yoshioka nyanyi, saya ngerasa, apa ini takdir?" Saya ngerasa ditanya seperti itu. Kadang-kadang sih, ya walau ga sedramatis itu juga. Tapi ya, memang dia itu auranya cerah banget! Bener-bener nyanyinya pinter banget.
29, Tanpa banyak mikir, langsung aja saya kepikiran ngajakin dia gabung Ikimonogakari. Selain tentunya suaranya bagus, dia juga punya pesona yang pure dan innocent banget. Cocok lah dipadukan dengan saya dan yamashita. Pokoknya cocok deh!
30. Setiap pulang perform biasanya udah malem. Di soutetsu bus, saya duduk paling belakang dan di sebelah saya ada Yamashita.Di situlah saya mulai bercerita tentang Kiyoe.
31. "Adeknya si Yoshioka itu pinter nyanyi loh, mending kita ajak aja gimana?"
"Oh, boleh deh, ajak aja coba" Setelah pembicaraan tersebut, secara tiba-tiba si Yoshioka (kiyoe) kirim email yang berisi "Aku denger katanya Mizuno-kun mau perform street live ya? Kalau bisa, aku bole ikutan nyanyi ga? Ya sekali aja deh"
32. 16 tahun berkarya, kadang suka kepikiran "wah yang namanya hidup bisa berubah gini ya?" Mulai dari kepikiran untuk ngajak, sampe si Yoshiokanya sendiri yang email, semua awalnya dari situ. Dan sampe sekarang juga masi inget dengan jelas saat-saat itu. Cuma ya si Yamashita bilang dia ga terlalu inget.
33. Sebelum Yoshioka join, di sekitar sagamiono, tempat kita biasa perform ada SMA khusus perempuan. Berhubung lagi ada festival budaya, banyak juga temen-temen seangkatan kita yang dateng main. Termasuk kakaknya si Kiyoe. Selepas dari festival, kita langsung cabut ke tempat biasa kita perform.
34. "Gue denger katanya lo mau ngajak adek gwa manggung? Gimana kalo gue panggil sekarang ya?" akhirnya kakaknya Kiyoe nelpon dia, dan ga lama kemudian muncullah Kiyoe. Waktu itu dia datang dengan kacamata ber frame merah. Yamashita yang pertama kali liat langsung teralihkan aja dengan imej kacamata merahnya itu. "Wah, gayanya boleh juga nih anak" katanya tentang Kiyoe.
35. Di TKP kita langsung cocokin kunci dan mulai nyanyi Natsuiro-nya Yuzu. Saya sih biasa aja, ga dramatis banget mikirnya, Yamashita juga gitu, ga mikir apa2. Kiyoe? ya dia cuma bilang "saya senang". Secara gamblangnya, bersatunya kita bertiga ini, seperti natural aja gitu.
36. Kalau kita liat sekarang, waktu pertama kita jadi bertiga, ketimbang "natural" lebih pas dibilang "spesial" aja gitu. Kalau digampangin ya pokoknya memang kita seperti ditakdirkan bertiga dari awal.
Tepat 16 tahun lalu, 3 November 1999. Itulah startline kita.
Next ke chapter selanjutnya --
Lembaran pertama hari ini,
Ikimonogakari, 3 orang.
sumber :
https://twitter.com/mizunoyoshiki/status/661201769284808704
24. Jadi, pertemuan pertama kami dengan Yoshioka itu di lorong sebuah studio milik umum di kota Atsugi. Dulu ada tuh studio kedap suara serba guna yang letaknya berdampingan dengan perpustakaan. Karena biaya sewanya murah dan untuk publik, maka banyak anak2 SMA yang ga ada uang, latihan band di sana.
25. Pada saat itu, Shina Ringo juga lagi booming. Dan banyak banget yang mau coverin dia, termasuk kita kepikiran juga. Tapi yang paling krusial adalah kita ga ada vokalis cewek. Berhubung almamater ekskul band kita ngetop2, akhirnya kita diskusi lah sama mereka. Hasilnya banyak yg pada bilang adiknya Yoshioka pinter nyanyi
.
26. Sepakatlah kita janjian di studio. Saya memutuskan untuk nunggu sambil duduk di lorong, karena saya datengnya sedikit lebih cepat. Ga lama kemudian datenglah cowok yang jadi bassist kita. Saat itu juga dia ga terlalu akrab, jadinya deh kita diskusi dengan sedikit awkward. Sampe akhirnya di ujung lorong sana terlihat seorang wanita yang memancarkan aura yang sangat cerah.
27. Tiba-tiba wanita itu langsung beri salam ke basis kita dengan ramah. Saya nanya "temen kamu nih?"
"Oh bukan, ini dia adiknya si Yoshioka, yang mau nyanyi"
"Ooh kamu"
Ya, dan dia adalah Yoshika Kiyoe.
28. Kadang saya berpikir "Pertama kali dengerin Yoshioka nyanyi, saya ngerasa, apa ini takdir?" Saya ngerasa ditanya seperti itu. Kadang-kadang sih, ya walau ga sedramatis itu juga. Tapi ya, memang dia itu auranya cerah banget! Bener-bener nyanyinya pinter banget.
29, Tanpa banyak mikir, langsung aja saya kepikiran ngajakin dia gabung Ikimonogakari. Selain tentunya suaranya bagus, dia juga punya pesona yang pure dan innocent banget. Cocok lah dipadukan dengan saya dan yamashita. Pokoknya cocok deh!
30. Setiap pulang perform biasanya udah malem. Di soutetsu bus, saya duduk paling belakang dan di sebelah saya ada Yamashita.Di situlah saya mulai bercerita tentang Kiyoe.
31. "Adeknya si Yoshioka itu pinter nyanyi loh, mending kita ajak aja gimana?"
"Oh, boleh deh, ajak aja coba" Setelah pembicaraan tersebut, secara tiba-tiba si Yoshioka (kiyoe) kirim email yang berisi "Aku denger katanya Mizuno-kun mau perform street live ya? Kalau bisa, aku bole ikutan nyanyi ga? Ya sekali aja deh"
32. 16 tahun berkarya, kadang suka kepikiran "wah yang namanya hidup bisa berubah gini ya?" Mulai dari kepikiran untuk ngajak, sampe si Yoshiokanya sendiri yang email, semua awalnya dari situ. Dan sampe sekarang juga masi inget dengan jelas saat-saat itu. Cuma ya si Yamashita bilang dia ga terlalu inget.
33. Sebelum Yoshioka join, di sekitar sagamiono, tempat kita biasa perform ada SMA khusus perempuan. Berhubung lagi ada festival budaya, banyak juga temen-temen seangkatan kita yang dateng main. Termasuk kakaknya si Kiyoe. Selepas dari festival, kita langsung cabut ke tempat biasa kita perform.
34. "Gue denger katanya lo mau ngajak adek gwa manggung? Gimana kalo gue panggil sekarang ya?" akhirnya kakaknya Kiyoe nelpon dia, dan ga lama kemudian muncullah Kiyoe. Waktu itu dia datang dengan kacamata ber frame merah. Yamashita yang pertama kali liat langsung teralihkan aja dengan imej kacamata merahnya itu. "Wah, gayanya boleh juga nih anak" katanya tentang Kiyoe.
35. Di TKP kita langsung cocokin kunci dan mulai nyanyi Natsuiro-nya Yuzu. Saya sih biasa aja, ga dramatis banget mikirnya, Yamashita juga gitu, ga mikir apa2. Kiyoe? ya dia cuma bilang "saya senang". Secara gamblangnya, bersatunya kita bertiga ini, seperti natural aja gitu.
36. Kalau kita liat sekarang, waktu pertama kita jadi bertiga, ketimbang "natural" lebih pas dibilang "spesial" aja gitu. Kalau digampangin ya pokoknya memang kita seperti ditakdirkan bertiga dari awal.
Tepat 16 tahun lalu, 3 November 1999. Itulah startline kita.
Next ke chapter selanjutnya --
Sejarah IKIMONOGAKARI chapter 0
Lembaran pertama hari ini diambil di depan Stasiun Ebina, sesaat
sebelum Vinawalk (sebuah tempat di depan stasiun Ebina) dibangun.
https://twitter.com/mizunoyoshiki/status/660298900515872768
13. 16 Tahun lalu tepatnya tanggal 1 Februari 1999, setiap hari yang kita ingat itu kenapa kita ga coba melakukannya dengan serius. Jadi ada sebuah ruang publik yang bisa minjemin kita ruang musik dengan gratis. Nah kita berdua coba deh untuk latihan di sana. Tapi sayangnya tempatnya lagi tutup, ya udah deh terpaksa di tempat parkir aja performnya. Dari situ lah hari itu kita tetapkan sebagai tanggal terbentuknya band ini.
14. Kita ga pernah ada pengalaman nyanyi di outdoor sebelumnya, makanya begitu latihan di tempat parkir dan hasilnya melebihi gambaran, ya kita seneng deh. Dengan mood yang lagi naik, semuanya jadi positive thinking. Jujur, saya ga pernah denger hasil performance kita waktu itu, tapi Yamashita bilang katanya dia punya rekaman audio tapenya.
15. Soal nama band, sampe SMA juga kita ga tau mau ngasih nama apaan, ga tau apa nih hal khusus dari kita berdua. Sampe akhirnya si Yamashita keinget
Hocchi: Eh dulu waktu kelas 1 SD, kita namanya Ikimonogakari kan ya? Mizuno: Oh ya? iya kali ya? Lupa gue Hocchi: Nah, kalo gitu, gimana kalo kita pake nama itu aja Mizuno: Oh, oke.
Dan sisanya, ya begitulah... Tahu-tahu udah 16 tahun berlalu aja.
16. Tanggal 13 April 1999, kita pertama kalinya perform di depan Stasiun Sagamiono. Gimana yah? pokoknya malu, gugup, trus ga ada yang liat, lalu gitar case kita biarin terbuka, ya begitulah selama satu jam. Kita mainnya ga di Ebina atau Atsugi. Kita sengaja milih tempat yang jauhan seperti di Sagamiono. Alesannya ya karena kita malu aja kalo sampe ada temen yang liat.
17. Suatu hari, ada seorang cewek umur 20an, dia adalah penonton pertama yang menyapa kita, "Kalian, bisa nyanyi lagu Namie?" dan request lagunya Namie Amuro. Ya ga bisa lah.
18. Saat itu, Jepang lagi dilanda demam Yuzu. Semua orang yang perform street live, coverin dan meniru gaya Yuzu. Sampai-sampai fans2 Yuzu ikut nontonin juga, dan heboh juga. Hal seperti itu terjadi di Jepang, dan kita berdua juga terlibat di dalam tren itu.
19. Kurang lebih 10 tahun kemudian, impian kita untuk perform bareng Yuzu, tercapai. Kita perform bareng di acara Onnoumatsuri. Sungguh bahagia bisa membawakan lagu "nekojyarashi" yang biasa dulu kita cover. Bisa tampil bareng mereka berdua itu rasanya semua mimpi dan penantian kita terbayar lunas di hari itu. Ga akan kita lupain deh. Berharga banget.
20. Sewaktu masi di street live, kita bagi tugas. Mizuno jadi main vocal, Yamashita jadi chorus dan harmonica. Waktu itu kita masi bawain cover hampir semuanya, tapi di saat bersamaan juga lagu seperti "chikyuu", "karakuri", dan "akai kasa" udah mulai dibuat waktu itu. Ya sebelum Yoshioka masuk, kita bawain sendiri tuh lagu-lagu tersebut.
21. Kita juga pernah bandingin ama band lain, tapi soal bikin lagu sih saya sih lebih cepet buatnya. Sampe-sampe Yamashita pernah mikir "Kalau Yoshiki bisa, gue juga bisa dong" dan saat itu juga dia mulai ikutan bikin lagu. Lagu pertama sih kurang bagus, tapi begitu lagu kedua (yang akhirnya jadi Chikyuu) saya kaget ternyata bagus juga ya! Dan cepet juga.
22. Sejak pertama bikin lagu ampe sekarang, saya selalu berkompetisi. Apalagi semenjak denger chikyuu, seperti ada rival di depan mata saya. Tapi bagi kita berdua, kompetisi itu menjadi semacam berkah. Dan sampe sekarang pun kita masih seperti itu.
23. Setengah tahun berlalu. Tiba-tiba ada wacana untuk cari vokalis perempuan. Supaya terkumpul, ya jadilah kita dua laki-laki ini cari vokalis ke SMA khusus perempuan. Karena kita mulai merasa kalau terus-terusan cover dan niru Yuzu, nanti bakal bosen jadinya.
Oke, cukup sekian untuk hari ini, maaf kalau ada tulisan yang tak berkenan. Next, Chapter 1.
https://twitter.com/mizunoyoshiki/status/660298900515872768
13. 16 Tahun lalu tepatnya tanggal 1 Februari 1999, setiap hari yang kita ingat itu kenapa kita ga coba melakukannya dengan serius. Jadi ada sebuah ruang publik yang bisa minjemin kita ruang musik dengan gratis. Nah kita berdua coba deh untuk latihan di sana. Tapi sayangnya tempatnya lagi tutup, ya udah deh terpaksa di tempat parkir aja performnya. Dari situ lah hari itu kita tetapkan sebagai tanggal terbentuknya band ini.
14. Kita ga pernah ada pengalaman nyanyi di outdoor sebelumnya, makanya begitu latihan di tempat parkir dan hasilnya melebihi gambaran, ya kita seneng deh. Dengan mood yang lagi naik, semuanya jadi positive thinking. Jujur, saya ga pernah denger hasil performance kita waktu itu, tapi Yamashita bilang katanya dia punya rekaman audio tapenya.
15. Soal nama band, sampe SMA juga kita ga tau mau ngasih nama apaan, ga tau apa nih hal khusus dari kita berdua. Sampe akhirnya si Yamashita keinget
Hocchi: Eh dulu waktu kelas 1 SD, kita namanya Ikimonogakari kan ya? Mizuno: Oh ya? iya kali ya? Lupa gue Hocchi: Nah, kalo gitu, gimana kalo kita pake nama itu aja Mizuno: Oh, oke.
Dan sisanya, ya begitulah... Tahu-tahu udah 16 tahun berlalu aja.
16. Tanggal 13 April 1999, kita pertama kalinya perform di depan Stasiun Sagamiono. Gimana yah? pokoknya malu, gugup, trus ga ada yang liat, lalu gitar case kita biarin terbuka, ya begitulah selama satu jam. Kita mainnya ga di Ebina atau Atsugi. Kita sengaja milih tempat yang jauhan seperti di Sagamiono. Alesannya ya karena kita malu aja kalo sampe ada temen yang liat.
17. Suatu hari, ada seorang cewek umur 20an, dia adalah penonton pertama yang menyapa kita, "Kalian, bisa nyanyi lagu Namie?" dan request lagunya Namie Amuro. Ya ga bisa lah.
18. Saat itu, Jepang lagi dilanda demam Yuzu. Semua orang yang perform street live, coverin dan meniru gaya Yuzu. Sampai-sampai fans2 Yuzu ikut nontonin juga, dan heboh juga. Hal seperti itu terjadi di Jepang, dan kita berdua juga terlibat di dalam tren itu.
19. Kurang lebih 10 tahun kemudian, impian kita untuk perform bareng Yuzu, tercapai. Kita perform bareng di acara Onnoumatsuri. Sungguh bahagia bisa membawakan lagu "nekojyarashi" yang biasa dulu kita cover. Bisa tampil bareng mereka berdua itu rasanya semua mimpi dan penantian kita terbayar lunas di hari itu. Ga akan kita lupain deh. Berharga banget.
20. Sewaktu masi di street live, kita bagi tugas. Mizuno jadi main vocal, Yamashita jadi chorus dan harmonica. Waktu itu kita masi bawain cover hampir semuanya, tapi di saat bersamaan juga lagu seperti "chikyuu", "karakuri", dan "akai kasa" udah mulai dibuat waktu itu. Ya sebelum Yoshioka masuk, kita bawain sendiri tuh lagu-lagu tersebut.
21. Kita juga pernah bandingin ama band lain, tapi soal bikin lagu sih saya sih lebih cepet buatnya. Sampe-sampe Yamashita pernah mikir "Kalau Yoshiki bisa, gue juga bisa dong" dan saat itu juga dia mulai ikutan bikin lagu. Lagu pertama sih kurang bagus, tapi begitu lagu kedua (yang akhirnya jadi Chikyuu) saya kaget ternyata bagus juga ya! Dan cepet juga.
22. Sejak pertama bikin lagu ampe sekarang, saya selalu berkompetisi. Apalagi semenjak denger chikyuu, seperti ada rival di depan mata saya. Tapi bagi kita berdua, kompetisi itu menjadi semacam berkah. Dan sampe sekarang pun kita masih seperti itu.
23. Setengah tahun berlalu. Tiba-tiba ada wacana untuk cari vokalis perempuan. Supaya terkumpul, ya jadilah kita dua laki-laki ini cari vokalis ke SMA khusus perempuan. Karena kita mulai merasa kalau terus-terusan cover dan niru Yuzu, nanti bakal bosen jadinya.
Oke, cukup sekian untuk hari ini, maaf kalau ada tulisan yang tak berkenan. Next, Chapter 1.
Sejarah IKIMONOGAKARI chapter 01 (intro)
Selamat malam semua .. aku mau share tentang sejarah awal mula terbentunya band yang kuidolakan yaitu IKIMONOGAKARI. penasaran ?? silahkan baca selengkapnya :))
1. Semua berawal dari 27 tahun lalu. Di kota Ebina, prefektur Kanagawa, kelas satu SD, pertama kalinya ketemu Hotaka. Meski namanya jelas-jelas Hotaka, tapi saya dengernya Hotaru. Apa jangan-jangan emang namanya yang berubah ya? ya pokoknya kalau ingetan pertama saya tentang Hocchi, yah itu. Bukan mengenai temen sejak kecil, temen sekelas, atau sahabatan.
2. Di kelas 1-1. Jadi di sekitaran rumah saya, ada mansion gede banget yang baru dibangun, dan saat itu juga liburan musim panas tiba. Nah kurang lebih ada sekitar 100 orang murid baru, akibatnya kelasnya dipisah. Jadi saya sekelas ama si Yamashita cuma sekitar satu semester. Ya beberapa bulan aja.
3. Nah, dalam rentang waktu yang singkat itu, kami dipilih jadi penanggung jawab kelas, yang dikenal juga dgn "Ikimonogakari", salah satunya sih kita harus kasih makan ikan mas yang ada di kolam belakang. Awalnya grup ini disebut "Shiikugakari". Tapi untuk anak SD kelas satu, "shiikugakari" itu susah banget diucapin. Makanya, wali kelas kami ganti dengan "Ikimonogakari"
4. Karena pemberian nama tersebut, secara tiba-tiba, beliau (wali kelas kami) menjadi semacam "Bapaknya" Ikimonogakari. Dan yang lebih bikin kaget lagi, beberapa tahun setelahnya, beliau melihat ada grup yang namanya "Ikimonogakari" dan membernya itu ada si "Mizuno-kun" dan "Yamashita-kun" dan dia baru sadar setelah diberi tahun oleh banyak orang. Dan akhirnya beliau mengirim kami karangan bunga di area konser.
5. Saat itu ya kita berdua kaget banget lah. Jadinya beberapa lama kemudian, kita contact beliau dan kasih undangan nonton konser kita. Sampai sekarangpun beliau masih suka datang ke konser kita. Beliau sama sekali ga kepikiran dengan cuma ganti nama penanggung jawab kelas bisa mengubah hidup dua anak muridnya. Meskipun begitu, beliau sudah memberikan nama yang bagus.
6. Waktu SD, saya hampir ga ada bayangan tentang Yamashita. Udah gitu, teman main kita juga beda. Yamashita tuh mainnya sama anak-anak yang suka bikin markas rahasia di taman belakang sekolah dan suka iseng-isengan di sana. Nah kalau saya itu lebih suka main sama yang suka nongkrong di kamar baca komik atau majalah. Kontras banget deh pokoknya.
7. Masuk SMP, saya kepisah ama si Yamashita. Sebenernya, saya mungkin sekelas dengan Yamashita waktu kelas satu. Tapi kita ga sadar, sampe ketika udah dewasa dan melihat buku tahunan. Bener-bener lupa dan ga sadar deh.
8. Waktu ujian masuk SMA, saya ga mau sekolah di sekitar kota saya. Saya kepikiran aja mau masuk sekolah swasta di tempat yang agak jauh dari sini. Saya yang ketika SMP ga terlalu pintar bergaul ini, kepikiran aja sekolah di tempat yang ga ada satupun yang saya kenal.
9. Tapi yah, namanya hidup, kadang di atas, kadang di bawah. Saya gagal ujian masuk sekolah yang saya inginkan. Waktu itu saya down banget, banget deh. Tapi saya pikir, seandainya saya berhasil, mungkin saya ga akan akrab dengan Yamashita, dan pastinya ga akan ketemu Yoshioka juga. Saya pikir, emang udah jalannya kali yah.
10. Di SMA, saya jadi akrab sama si Yamashita yang dah lama kepisah. Wah kita jadi almamater sekolah yang kegiatan klubnya ngetop banget. Nah dari situ kita masuk dalam grup "siswa yang ga ada klub". Karena kita rumahnya deketan, sering tuh kita pulang bareng. Sejak ikimonogakari terbentuk, kita masih mempertahankan jarak keunikan masing-masing, cuma ya untuk saat ini masih sebatas teman biasa saja.
11. Saya juga ga inget kapan pertama kalinya Yamashita manggil saya "Yoshiki". Begitu juga dengan saya, juga ga inget kapan pertama kali manggil dia "Hotaka". Kalau dipikir, iya juga ya, biasanya sih teman-teman dan orang terdekat saya manggil dengan nama keluarga. Yang manggil pakai nama asli, ya dia orang pertama, selama hidup saya.
12. Saat kita lagi ga ngapa-ngapain, kita lihat chanel televisi lokal, dan saat itu grup bernama "Yuzu" baru saja muncul di industri musik. Yamashita yang terinspirasi dari video klipnya mendadak bilang "Ingin deh rasanya street live" dan ya dia kepikiran aja gitu. Di jalanan biasa kita pulang.
sumber :
https://twitter.com/mizunoyoshiki/status/659176460351987712
1. Semua berawal dari 27 tahun lalu. Di kota Ebina, prefektur Kanagawa, kelas satu SD, pertama kalinya ketemu Hotaka. Meski namanya jelas-jelas Hotaka, tapi saya dengernya Hotaru. Apa jangan-jangan emang namanya yang berubah ya? ya pokoknya kalau ingetan pertama saya tentang Hocchi, yah itu. Bukan mengenai temen sejak kecil, temen sekelas, atau sahabatan.
2. Di kelas 1-1. Jadi di sekitaran rumah saya, ada mansion gede banget yang baru dibangun, dan saat itu juga liburan musim panas tiba. Nah kurang lebih ada sekitar 100 orang murid baru, akibatnya kelasnya dipisah. Jadi saya sekelas ama si Yamashita cuma sekitar satu semester. Ya beberapa bulan aja.
3. Nah, dalam rentang waktu yang singkat itu, kami dipilih jadi penanggung jawab kelas, yang dikenal juga dgn "Ikimonogakari", salah satunya sih kita harus kasih makan ikan mas yang ada di kolam belakang. Awalnya grup ini disebut "Shiikugakari". Tapi untuk anak SD kelas satu, "shiikugakari" itu susah banget diucapin. Makanya, wali kelas kami ganti dengan "Ikimonogakari"
4. Karena pemberian nama tersebut, secara tiba-tiba, beliau (wali kelas kami) menjadi semacam "Bapaknya" Ikimonogakari. Dan yang lebih bikin kaget lagi, beberapa tahun setelahnya, beliau melihat ada grup yang namanya "Ikimonogakari" dan membernya itu ada si "Mizuno-kun" dan "Yamashita-kun" dan dia baru sadar setelah diberi tahun oleh banyak orang. Dan akhirnya beliau mengirim kami karangan bunga di area konser.
5. Saat itu ya kita berdua kaget banget lah. Jadinya beberapa lama kemudian, kita contact beliau dan kasih undangan nonton konser kita. Sampai sekarangpun beliau masih suka datang ke konser kita. Beliau sama sekali ga kepikiran dengan cuma ganti nama penanggung jawab kelas bisa mengubah hidup dua anak muridnya. Meskipun begitu, beliau sudah memberikan nama yang bagus.
6. Waktu SD, saya hampir ga ada bayangan tentang Yamashita. Udah gitu, teman main kita juga beda. Yamashita tuh mainnya sama anak-anak yang suka bikin markas rahasia di taman belakang sekolah dan suka iseng-isengan di sana. Nah kalau saya itu lebih suka main sama yang suka nongkrong di kamar baca komik atau majalah. Kontras banget deh pokoknya.
7. Masuk SMP, saya kepisah ama si Yamashita. Sebenernya, saya mungkin sekelas dengan Yamashita waktu kelas satu. Tapi kita ga sadar, sampe ketika udah dewasa dan melihat buku tahunan. Bener-bener lupa dan ga sadar deh.
8. Waktu ujian masuk SMA, saya ga mau sekolah di sekitar kota saya. Saya kepikiran aja mau masuk sekolah swasta di tempat yang agak jauh dari sini. Saya yang ketika SMP ga terlalu pintar bergaul ini, kepikiran aja sekolah di tempat yang ga ada satupun yang saya kenal.
9. Tapi yah, namanya hidup, kadang di atas, kadang di bawah. Saya gagal ujian masuk sekolah yang saya inginkan. Waktu itu saya down banget, banget deh. Tapi saya pikir, seandainya saya berhasil, mungkin saya ga akan akrab dengan Yamashita, dan pastinya ga akan ketemu Yoshioka juga. Saya pikir, emang udah jalannya kali yah.
10. Di SMA, saya jadi akrab sama si Yamashita yang dah lama kepisah. Wah kita jadi almamater sekolah yang kegiatan klubnya ngetop banget. Nah dari situ kita masuk dalam grup "siswa yang ga ada klub". Karena kita rumahnya deketan, sering tuh kita pulang bareng. Sejak ikimonogakari terbentuk, kita masih mempertahankan jarak keunikan masing-masing, cuma ya untuk saat ini masih sebatas teman biasa saja.
11. Saya juga ga inget kapan pertama kalinya Yamashita manggil saya "Yoshiki". Begitu juga dengan saya, juga ga inget kapan pertama kali manggil dia "Hotaka". Kalau dipikir, iya juga ya, biasanya sih teman-teman dan orang terdekat saya manggil dengan nama keluarga. Yang manggil pakai nama asli, ya dia orang pertama, selama hidup saya.
12. Saat kita lagi ga ngapa-ngapain, kita lihat chanel televisi lokal, dan saat itu grup bernama "Yuzu" baru saja muncul di industri musik. Yamashita yang terinspirasi dari video klipnya mendadak bilang "Ingin deh rasanya street live" dan ya dia kepikiran aja gitu. Di jalanan biasa kita pulang.
sumber :
https://twitter.com/mizunoyoshiki/status/659176460351987712
Mengenalkan Komunitas IT " Digital Informatika Sidoarjo Club "
| :))) | |
Malam ini, saya Hana. Akan mengenalkan komunitas yang sedang saya ikuti selama 1 tahun ini, yakni komunitas di bidang IT yang bernama “ Digital Informatika Sidoarjo Club “atau dapat disingkat dengan sebutan DISC . Yang berdiri pada tanggal 05 April 2014 yang pada waktu itu anggota masih terdapat 8 orang. Komunitas ini mulai berjalan sampai saat ini bertempat di SMK PGRI 2 SIDOARJO, sekolah tersebut masih kami pakai untuk basecamp kami. Dengan menggunakan tempat sekolah, kami pun dapat mengajak siswa-siswi untuk bergabung di komunitas tersebut. Selain itu kami juga mendapat guru pembimbing sekaligus penasehat yang sangat mendukung kegiatan DISC. Pada awal saya bergabung, komunitas tersebut belum memiliki sebuah logo. Sang ketua sekaligus pendiri DISC yaitu “ Garry Priambudi “ , mengadakan sebuah lomba membuat logo. Siapa pun boleh mengikuti lomba tersebut asal termasuk anggota baik junior maupun senior. Setiap peserta membuat karya logo DISC menurut imajinasi masing-masing dan karya tersebut dipilih secara voting, dan pemenangnyalah yang karyanya akan digunakan untuk komunitas. Berikut logo yang terpilih.
Selama satu tahun lebih enam
bulan ini, DISC telah mengadakan beberapa acara. Yakni, Seminar SEO bertema “Membangun Bisnis di Dunia Internet”. Seminar
ini telah terlaksana pada 15 Desember 2014 silam. Acara ini menjelaskan tentang
berbisnis online, cara dan tips juga disampaikan oleh sang pemateri. Kami
mengundang pemateri dari luar (maksudnya luar sekolah) kebetulan salah satu
dari kami mendapat kenalan seorang ahli search
engine optimation yang sangat berpengalaman. Acara tersebut bersifat umum,
siapa pun dapat mengikuti acara ini. Yang kedua, acara pelatihan untuk
masing-masing jurusan. Setiap bulan kita mengadakan pelatihan tersebut bagi
siswa yang bukan termasuk anggota komunitas. Acara tersebut guna untuk membagi
ilmu dan pengalaman sehingga mereka dapat terlatih dan begitu juga bagi kami.
Dan ada beberapa acara lainnya.
Setelah ini, saya akan
menceritakan sedikit pengalaman dan alasan saya untuk bergabung di komunitas IT
yang bernama DISC.
Pada waktu itu, saya daftar ke SMK PGRI 2 SIDOARJO dengan jurusan
perkatoran. Seperti biasa, sekolah menengah melakukan kegiatan MOS. Pada saat
materi, kakak senior yang termasuk anggota DISC
memasuki ruangan yang sedang kutempati. Mereka masuk dengan izin kakak OSIS.
Lalu ..... eerrr .. maaf mungkin ini akan menjadi cerita yang panjang, langsung
pada intinya saja. Hehehe :D
Alasan saya masuk ke dalam
komunitas ini ialah bukan karena bidangnya yaitu IT (Ilmu Teknologi) , namun
saya ingin merasakan bagaimana rasanya bergabung ke dalam komunitas. Saya ingin
tahu bagaimana rasa kekeluargaan di dalamnya atau yang lain. Selama ini saya
baru pertama kali bergabung ke dalam komunitas di dunia nyata. Sebelumnya saya
memang pernah bergabung di beberapa komunitas, namun itu hanya di dunia virtual
atau biasa disebut dunia maya. Disana saya hanya dapat membaca kalimat-kalimat
saja, dan dari situ saya berfikir, percuma saya bergabung di komunitas tapi
hanya bisa mengetik apa yang dalam pikiran saya dan tidak dapat berbicara atau
sharing secara langsung. Lalu beberapa hari kemudian, saya menemukan komunitas
yang nyata dan sangat nyata :D . alhasil, saya dapat sharing dan mendapat ilmu
dari komunitas ini.
Kami
mempunya visi untuk komunitas ini. Yakni, “Membangun
karakter generasi muda yang mampu belajar dan berkarya bersama. Serta
menjadikan komunitas ini dapat berkembang luas dan memiliki basecamp atau
workspace sendiri.” Adapun juga misi kami, yaitu
- Saling berbagi pengetahuan dan pengalaman tentang IT.
- Mengadakan kegiatan rutin kumpul anggota.
- Membentuk jiwa yang kuat sesuai dengan tujuan dibentuknya komunitas. Memiliki dan bisa menimbulkan tekad, peduli, tanggung jawab, giat, tekun, pantang menyerah, sabar dan penuh semangat.
- Aktif mengadakan kegiatan acara seperti seminar, pelatihan, membangun project bersama.
- Mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan dunia IT atau Komputer.
Sekian ocehan dari saya :D .
Terimakasih bagi kalian yang
telah mengorbankan waktunya untuk membaca artikel ini saya mohon maaf bila salah kata dan bahasa yang kurang teratur.
:D
Oh iya jika ingin tahu
tentang Digital Informatika Sidoarjo Club, bisa langsung mengunjungi web kami
di www.digitalitclub.com di
sana terdapat berbagai materi pembelajaran tentang komputer. Semoga bermanfaat J)) //
CERPEN by: Dhuhana : TAK ADA DENDAM UNTUKMU
TAK ADA
DENDAM UNTUKMU
Tubuh
mungil itu terus menarik baju ibunya yang akan pergi bekerja. Seakan ia tak mau
kehilangan ibunya, ia terus mencegahnya untuk pergi. Namun ada beberapa alasan
sehingga ia tak mau ditinggalkan oleh ibunya pergi dan tetap tinggal di rumah
bersama ayahnya. Jika tidak ada ibunya yang menemani di rumah, ia sangat
kesepian dan menderita bila bersama ayahnya. Akan tetapi ibu dari anak tersebut
harus pergi bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Ayahnya?? Tentu saja
ayah dari anak itu adalah seorang pengangguran kelas atas. Dia selalu menyuruh
istrinya untuk bekerja, bekerja, dan bekerja. Sedangkan anaknya yang masih
berumur 10 tahun harus mengerjakan semua pekerjaan rumah. Dari menyapu,
mencuci, sampai memasak ia harus kerjakan, dan belum lagi pekerjaan rumah dari
sekolah. Sedangkan ia hanya menghambur-hamburkan uang dari jeri payah istrinya
untuk berjudi dan minum. Dia tak pernah memikirkan perasaan anak dan istrinya
sedikitpun. Sejak sebelum lahir Mei telah disiksa oleh ayahnya, pada waktu
masih di dalam kandungan perut ibunya sering dipukuli olehnya dengan alasan
sepele. Ibunya seorang buruh pabrik biskuit yang berada tak jauh dari
rumahnya.
Plaaaakkk
....... !!!!!
Tangan besar milik ayahnya berhasil
mendarat di pipi Mei dan meninggalkan bekas merah lebam, lantaran ia selalu
mencegah ibunya untuk bekerja.
“Pak !! Apa
yang kau lakukan pada anak kita?” bentak ibu Mei pada suaminya yang tidak
terima anak satu-satunya diperlakukan kasar oleh ayahnya sendiri.
“Sudah kau
diam saja !! Sekarang cepat kau pergi bekerja atau nanti bosmu marah dan kau
dipecat!!” Bantah ayah Mei.
Ibu Mei tak
punya pilihan lain selain tetap pergi bekerja,
ia harus mencari uang untuk kebutuhan Mei –anaknya. Namun, sebelum ia berangkat, ia
mencoba menenangkan Mei yang tengah menangis lantaran pipinya ditampar oleh
ayahnya hingga lebam.
“Mei, kamu
jangan menangis lagi ya nak. Ibu pergi tidak akan lama, lagi pula Mei sudah
besar tidak boleh cengeng.” Ujar ibu Mei menenangkan seraya mencium kening Mei.
Dan pada akhirnya hati Mei pun berhasil luluh dan membiarkan ibunya pergi untuk
bekerja.
Setelah ibu
Mei berangkat, tiba-tiba tangan Mei ditarik dengan keras oleh ayahnya menuju kamar
mandi. Mei pun terkejut sekaligus takut dengan perlakuan ayahnya. Di benaknya
terus bertanya-tanya sebenarnya apa yang akan dilakukan oleh ayahnya.
Sesampainya di depan pintu kamar mandi, sontak Mei didorong menuju ke dalamnya
sehingga badannya terbentur dinding ruang tersebut.
“Ayah ...
Apa yang akan ayah lakukan?” Tanyanya dengan suara yang sedikit serak dan
disertai perasaan takut terhadap ayahnya. Ayah Mei tak menghiraukan pertanyaan
Mei. Ia meninggalkan Mei sejenak. Dan tak lama kemudian ia kembali dengan
membawa ember yang berisi air bekas cucian piring yang jelas baunya tak karuan.
Lalu tak tunggu lama lagi, ayahnya pun menyiramkan air tersebut pada anaknya.
Mei yang tengah disiram dengan air tersebut tak bisa berkata apa-apa, ia hanya
pasrah seraya memejamkan mata. Tidak hanya itu, ayahnya tak puas menyiksa Mei
dengan siraman air cucian piring, ia pun mengambil gayung yang berada di
sampingnya lalu ia memukul Mei dengan benda tersebut tepatnya di kepala Mei. Ia
melakuka tanpa henti seraya mencaci maki anaknya lantaran Mei selalu merengek
pada ibunya yang akan berangkat bekerja. Ayahnya memukul tak hanya di kepala
saja namun di bagian tubuh yang lain. Ia hanya bisa menjerit dengan memanggil
ibunya dalam hati. Menjerit, terus menjerit hanya itu yang bisa ia lakukan.
Ibu..!! Ibu...!! Tolong aku bu.. ibu kapan pulang? Mei
takut dengan ayah. Badan Mei sakit sekali bu.. Tolong Mei bu.. Kenapa ayah
jahat sekali padaku bu ? Kenapa? Ibu ...
Mei terus
menerus menjerit memanggil ibunya dalam benaknya sehingga ia tak dapat mengis
dan mengeluarkan air matanya lantaran saking kerasnya pukulan itu. Ia di situ
hanya pasrah sambil menunggu ayahnya puas dan lelah menyiksanya.
Lima belas
menit pun berlalu, masa hukuman Mei berakhir lantaran ayahnya sudah lelah
menghukum anaknya. Sebenarnya tak pantas disebut hukuman, ini lebih tepatnya
pada siksaan yang cukup sadis bagi anak seumur sedemikian. Usai melakukan hal
keji tersebut, kemudian ia masuk ke dalam kamar untuk tidur tanpa memperdulikan
anaknya yang tengah menderita di kamar mandi. Melihat ayahnya telah lelah dan
masuk ke dalam kamar, Mei pun langsung bergegas untuk membersihkan badannya
dari bau yang tak sedap lantaran terkena air cucian piring.
Setelah
selesai mandi, ia tak lupa untuk mencuci pakaiannya dan sekaligus pakaian orang
tuanya. Dengan tubuh tak berdaya, Mei tetap melakukan pekerjaan rumah jika
tidak ia harus berurusan dengan ayah yang sangat kejam tersebut.
Hari
menjelang sore. Ibu Mei tak kunjung datang, padahal ia berharap ibunya pulang
lebih awal hari ini. Ia ingin mengatakan semua yang terjadi pada hari ini.
Namun sekarang bukan waktunya untuk melamun dan mengharapkan kedatangan ibu. Ia
harus menyiapkan makan malam untuk ayahnya. Selagi ayahnya tengah tertidur
pulas, ia bergegas ke ruang dapur untuk memasak dan menyiapkan makan malam. Walaupun
ia masih kecil, masakannya cukup enak. Jadi, ia tak perlu kena amukan ayahnya
jika memakan masakannya.
Beberapa
menit kemudian Mei selesai memasak dan masakan tersebut dapat disajikan. Aroma
yang sungguh harum tercium di penjuru ruangan.
“Semoga
ayah tidak marah lagi dan mau makan masakanku.” Ucapannya yang terlontar dari
mulutnya seraya memandangi makanan yang tertata rapi di atas meja makan.
Ceklek!! ...
Terdengar suara pintu terbuka yang
berasal dari kamar ayahnya. Dan sosok yang keluar dari ruangan tersebut yang
pasti ayahnya. Ia membuka pintu dengan ekspresi mata yang masih mengantuk.
Dengan lantaran aroma harum dari masakan Mei, ia terbangun dan mengakibatkan
perutnya lapar seketikan.
“Mei.. kamu
masak apa?” Tanya ayahnya seraya menghampiri meja makan lalu duduk di salah
satu kursi di dekatnya.
“Umm ..
I-ini yah, Mei memasak kari ayam. Kebetulan di dapur tersisa bahan-bahan untuk
makan malam ini. Semoga ayah suka.” Jawab Mei sedikit ragu dan disertai rasa
takut. Tak menunggu lama lagi, Mei pun mengambilakan ayahnya piring dan
mengisinya dengan nasi putih yang masih hangat dan dilanjutkan dengan kari ayam
yang aromanya begitu menggoda.
“Silahkan
yah. kalau ayah mau lagi, nanti Mei ambilkan untuk ayah.” Ucap Mei
mempersilahkan. Dengan lahapnya ayah Mei memakan kari ayam tersebut sampai ia
minta untuk tambah sehingga kari dan nasi yang di atas meja tersisa sedikit.
Mei baru sadar, ia lupa untuk menyisihkan untuk ibunya.
“Maaf ayah.
Bisakah ayah menyisakan untuk ibu? Ibu pasti belum makan sepulang kerja nanti.”
“Ah! Kau
tak usah memperdulikan ibumu! Dia pasti telah makan di luar. Cepat berikan
makanan itu padaku!” Pintanya dengan memaksa dan disertai bentakan.
“Tidak
ayah! Ayah telah makan banyak hari ini. Kurasa ayah sudah cukup untuk
memakannya. Dan sekarang giliran ibu yang harus makan.” Bantahnya.
Pyaarrr.... !!!
Suara
piring telah menyentuh lantai lebih lepatnya piring tersebut dibanting lantaran
ayah mei mengeluarkan amarahnya. Ia sangat tidak suka bila ia diganggun saat
makan, apalagi Mei membantahnya. Seketika piring yang ada di atas meja itupun
dijatuhkan dan pada akhirnya pecah berkeping-keping. Mei yang melihat dan
mendengar suara itu sontak ia membelalak dan diam membisu. Mei tak berani
mengeluarkan sepatah kata pun setelah apa yang dilakukan oleh ayahnya.
Seketika
suasana menjadi hening. Ayah Mei menatap tajam pada Mei yang tengah mendongak
melihat tatapan tersebut dengan sayu. Tiba-tiba suasana hening itu pun pecah
setelah terdengar suara ketukan pintu pertanda rumahnya kedatangan tamu.
Sontak, Mei menghampiri pintu untuk membukanya. Dibukanya pintu tersebut,
terlihat sosok dua pria tinggi nan berwibawa dengan memakai seragam yang tak
asing bagi masyarakat. Orang tersebut ialah petugas kepolisian. Mei yang
melihat sosok pria tersebut kebingungan, apa yang dilakukan oleh polisi itu.
“Permisi
dek, apa benar ini rumahnya bapak Winanto?” tanya polisi tersebut.
“U-um ..
Iya benar beliau ayah saya, ada perlu apa ya pak ?”
“Kami dari
petugas kepolisian ingin bertemu dengan bapak Winanto.”
“Sebentar,
saya panggilkan dulu. Silahkan bapak masuk dulu.”
Setelah
mempersilahkan kedua polisi tersebut, Mei masuk ke dalam untuk memanggil
ayahnya. Di buka pintu kamarnya, ia tak mendapati tanda-tanda dari kehadiran
ayahnya. Ia pun mencari di penjuru ruangan namun tak ada. Dan akhirnya ia
menemui polisi yang berada di ruang tamu.
“Maaf
pak, ayah saya tidak sedang di rumah.” Ujar Mei.
“Apa
benar begitu? Apa adik tidak sedang berbohong?” Tanya salah satu polisi dengan
tak percaya dengan perkataan Mei.
“Iya
pak, saya bersungguh-bersungguh. Kalau saya boleh tahu, ayah saya ada masalah
apa sehingga bapak mencarinya?” Tanyanya penasaran.
“Sebenarnya,
ayah adik seorang buronan selama 2 tahun ini. Beliau terkena kasus pembunuhan
dan narkoba.” Jelasnya.
“A-apa!!!
Pembunuhan?!” Mei yang mendengar berita tersebut spontan ia terkejut dan tak
percaya apa yang telah dilakukan ayahnya selama ini, dan inilah alasan mengapa
ayahnya tak pernah keluar rumah.
Tiba-tiba
terdengar suara tembakan dari luar rumah. Polisi dan Mei pun terkejut apa yang
telah terjadi. Kemudia beberapa detik kemudian peugas kepolisian tersebut
mendapat informasi bahwa buronan yang mereka cari selama ini telah ditemukan
dan sedang dikejar. Setelah mendapat informasi tersebut, para petugas yang
berada dalam rumah Mei pun bergegas untuk pergi mengejar seorang yang mereka
cari selama ini. Perasaan Mei pun tidak enak dan hatinya juga gelisah teringat
ayahnya yang menjadi buronan. Karena ia merasa gelisah, Mei pun memutuskan
keluar rumah untuk mengejar ayahnya.
Mei
berlari sekencang mungkin dengan kaki kecilnya seraya air mata yang membasahi
wajah mungilnya. Hati Mei sesak karena kecewa dan tak tega ayahnya diincar oleh
para polisi. Mei tak peduli dengan perlakuan ayahnya selama ini karena walau
begitu ia tetap ayahnya.
Sesampainya
ia di tempat ayahnya, Mei melihat ayahnya yang sedang dikepung oleh beberapa
polisi dengan menodongkan senjata kepada seseorang yang ia panggil ayah. Takut,
kecewa, tidak tega, itu yang Mei rasakan saat ini setelah melihat seseorang
tersebut. Mei hanya terdiam membisu dan berdiri kaku tak dapat bergerak sedikit
pun.
“Tuhan ... apa yang harus Mei lakukan? ....
Mei takut .. Mei kecewa pada ayah .... Mei pun juga tidak tega ...
Ibu ... Ibu dimana ??
Bagaimana perasaan ibu setelah melihat ayah saat ini ? .. Ibu kapan pulang
?....” Katanya dalam hati dengan berharap ibunya berada disini.
Petugas
kepolisian memerintahkan ayah Mei untuk tidak bergerak seraya menodongkan
senjata yang disebut tembak. Beberapa saat kemudian, ayah Mei merasa para
polisi tersebut sedang lengah dan ayah Mei pun memutuskan untuk melarikan diri.
Namun gerakannya ketahuan oleh polisi tersebut dan pada akhirnya salah satu
senjata pun beraksi dan peluru dari tembak itu keluar dan tertuju pada ayah
Mei. Ayah Mei menghentikan gerakannya dan menutup wajahnya dan pada akhirnya ia
hanya pasrah. Beberapa detik setelah terdengar suara tembakan tersebut, ayah
Mei tidak merakan sakit dimanapun. Ia heran dan ia pun membuka mata. Alhasil
yang ia lihat adalah anak semata wayangnya yang bernama Mei, berbaring lemah
tak berdaya dengan darah yang mengalir deras di sekitar tubuhnya. Ternyata saat
peluru itu diluncurkan, Mei dengan sigap menghampiri tepat di depan posisi
ayahnya dan akhirnya pun ia tertembak tepat terkena pada di dadanya.
“MEIIIII
.... !!!!!!!” Teriakannya pada Mei, anaknya.
Ayah
Mei yang melihat anaknya terbaring lantaran terkena tembakan itu pun langsung
menghampiri dan memeluknya. Ia sangat menyesal apa yang selama ini ia perbuat
pada Mei.
“Mei
... mengapa kau sampai berbuat seperti ini pada ayah? Kau tak perlu
melakukannya demi ayahmu yang keji ini. Aku tidak pantas kau panggil dengan
sebutan ayah, aku tak pantas kau anggap ayah. Aku ini memang tidak berguna, dan
sangat kejam.” Ayah Mei sangat menyesal dan merasa bersalah.
Ia terus
menggenggam erat tangan putrinya seakan tak mau melepaskannya. Tiba-tiba tangan
Mei yang digenggam olehnya bergerak. Ia menatap putrinya dengan dalam. Perlahan
Mei membuka matanya dan melihat ayahnya yang berada tepat di depan wajahnya,
seakan Mei ingin menyampaikan sesuatu pada ayahnya. Namun Mei tak kuat lagi,
dadanya sakit bukan main, napasnya pun tak dapat terkendali. Perlahan ia
mengangkat tangan kanannya dan mulai menyentuh wajah ayahnya yang tengah
menagis dengan penyesalannya, dan kemudian ia tersenyum padanya seraya
meneteskan air mata. Mei tak dapat mengatakan apapun. Tak lama kemudian Mei
menjatuhkan tangannya dari wajah ayahnya dan disusul dengan menutup mata,
disitulah ia menghembuskan napas terakhirnya.
“Mei ..
maafkan ayah..” ucapnya lirih setelah Mei menutup mata untuk selamanya.
Petugas
polisi pun langsung menjemput ayah Mei untuk diamankan sedangkan jasad Mei
segera diurus oleh polisi yang lain. Ayah Mei yang tadinya berusaha untuk
melarikan diri dan tak ingin ditangkap, akhirnya ia kini pasrah dan rela
ditangkap oleh polisi setelah melihat perbuatan putrinya padanya.
Kemudian,
setelah ayah Mei telah masuk ke dalam mobi polisi, ibu Mei tak sengaja melewati
di tempat kejadian tersebut dan melihat segerombolan orang-orang yang sedang
menyaksikan kejadian tersebut. Ibu Mei pun langsung menyusup ke dalam kerumunan
tersebut dan alhasil ia terdiam kaku seperti petir yang menyambar dirinya
setelah melihat seorang anak kecil seumuran dengan putrinya diangkat oleh para
petugas kepolisian. Ia mencoba mendekati anak tersebut dan berharap ia bukan
anaknya. Berjalan perlahan dan akhirnya sampai padanya, dan apa yang ia lihat
adalah putri satu-satunya tengah menutup mata dengan badan yang dilumuri oleh
darah. Ia terkejut bukan main. Matanya membelalak setelah melihat keadaan
anaknya tersebut.
“Pak!! Apa
yang sebenarnya terjadi ? Mengapa anak saya jadi seperti ini ? Siapa pelakunya
?” Tanya bertubi-tubi terlontar dari mulutnya dengan nada yang meninggi.
“Begini bu,
tadi anak ibu melindungi ayahnya yang sedang ditembak oleh kami.” Jelas salah
satu polisi.
“Suami saya
ada masalah apa ? mengapa harus ditembak?”
“Sebaiknya
ibu ikut kami ke kantor untuk diberi kejelasan. Nant biar anak ibu akan kami
bawa ke rumah sakit.”
Pada
akhirnya ibu Mei ikut ke kantor polisi untuk diberi keterangan atas masalah
suaminya, dan anaknya yang bernama Mei harus dibawa ke rumah sakit. Di
perjalanan ibu Mei hanya duduk terdiam. Dipikirannya hanya ada putrinya, ia
merasa bersalah karena tidak menjaga Mei di rumah malah meninggalkan sendiri bersama
ayahnya yang kejam itu. Ia sangat kecewa pada suaminya.
Pagi
hari, Lesty –ibu Mei datang ke pengadilan untuk menghadiri sidang suaminya atas
kasus beberapa hari yang lalu. Ia memasuki ruangan pengadilan dengan ekspresi
suram. Dendamnya pada suaminya masih membara di hatinya. Suaminya telah
melakukan hal kejam padanya dan Mei selain itu suaminya telah membuat putrinya
meninggl dengan cara sedemikian.
Para
hakim pun telah menduduki posisinya. Kemudian petugas memanggil sang tersangka
yaitu Winanto –suami Lesty. Hakim telah membacakan UUD 1945 dan membacakan
semua kesalahannya sehingga telah diputuskan ia dihukum dengan kurungan selama
seumur hidup dengan kasus bebrapa tahun lalu yaitu pembunuhan dan narkoba
ditambah lagi kasus barunya yaitu kekerasan rumah tangga dan kekerasan pada
anak. Mendengar keputusan itu Lesty tersenyum puas namun di sisi lain, ia masih
sedih dengan kematian putrinya. Setelah usai menghadiri acara pengadilan
tersebut, ia bergegas ke makam Mei untuk berziarah.
“Mei..
Ibu harap kau tenang di alam sana. Ibu disini selalu mendo’akanmu sayang.”
Ucapnya untuk putrinya seraya mencium batu nisan milik Mei.
SELESAI~






